Family’s Vacation to Dieng

Perjalanan ke Dieng ini adalah ide dari adik perempuan saya. Kalau saya sih, maunya pergi ke Bromo tapi jauh dari rumah nenek. Oh ya, kami pergi ke Dieng dari rumah nenek yang ada di Majenang. Perjalanan ke Dieng dari Majenang kira-kira selama 5 jam.

Banyak sekali kekhawatiran pergi ke desa yang ada di atas awan itu. Salah satunya adalah siapa yang membawa mobil ke sana. Karena kami enggak dapat supir akhirnya mau enggak mau, bapak yang membawa. Perjalanan yang sangat berkelok-kelok itu membuat kami sekeluarga termasuk nenek deg-degan selama di perjalanan.

Di Dieng ada banyak sekali desa, dari desa yang ada di bawah hingga ada yang di atas. Udara di sana cukup dingin sekitar 18 derajat kira-kira seperti musim gugur di Jepang. Tapi yang saya heran, kenapa dengan udara yang cukup dingin tersebut warna kulit warga yang tinggal di Dieng tidak putih-putih….

Kami sampai di Dieng sekitar jam 16 dan menginap di salah satu rumah warga yang dijadikan penginapan. Nama penginapannya adalah Panca Warna. Semalam hanya 300,000 rupiah untuk 3 kamar. Lumayan murah meski air panasnya tidak berfungsi sama sekali dan wifinya yang sangat lambat. Tapi, lokasi rumah penginapannya sangat strategis, samping Indomaret dan dekat Candi Arjuna.

Karena perjalanan ini dengan keluarga bukan dengan Travel, kami hanya mengunjungi 2 tempat wisata aja. Candi Arjuna dan Telaga Warna.

Kami berempat pergi ke Candi Arjuna setelah jam 17 di mana Candi Arjuna sudah tutup dari jam 17. Memang awalnya kami sudah mau langsung kembali ke penginapan, tapi sayang aja kalau langsung kembali gitu aja. Saat itu, peribahasa “Malu bertanya sesat di jalan” sangat bermakna sekali. Saya mencoba bertanya ke salah satu tukang parkir dan katanya kami bisa masuk dari pintu keluar. Ternyata itu benar. Ya, mohon maaf ini seharusnya tidak boleh tapi banyak yang seperti itu dan membuat kami juga ingin ikut masuk tanpa membayar. Well, Candi Arjuna sendiri sangat kecil, saya pikir luas dan bagus. Tapi, ya gitu aja sih.

Berikutnya adalah Telaga Warna. Tiket masuk ke Telaga Warna sendiri hanya 15,000 rupiah. Ini sih luar biasa murahnya. Kami datang pagi-pagi sekali sekitar jam 7.30. Saat itu masih sepi dan belum ada banyak orang, jadi bebas berfoto-foto ria. Di dalam Telaga Warna, kita bisa trekking dan jaraknya lumayan jauh.

Kami menemukan banyak goa-goa kecil tapi ya memang enggak bisa masuk sih. Makin jauh trekking, membuat kami makin deg-degan. Mengingat sepi sekali dan enggak ada orang. Akhirnya kami memutuskan kembali setelah menyebrangi jembatan kayu. Jembatan kayunya seperti di atas rawa dan itu goyang-goyang. Bikin merinding juga. Di dekat jembatan itu, kami juga menemukan telaga kecil.

Well, perjalanan ke Dieng ini akan lebih seru dan menyenangkan apabila kami juga mengunjungi ke Bukit Sikunir yang katanya sangat worth kalau pergi ke Dieng.

18 thoughts on “Family’s Vacation to Dieng

  1. Terakhir ke Dieng tuh akhir 2017, pas kebetulan lagi kerja di desa di Temanggung yang berbatasan sama daerah Wonosobo. Duuuh jadi kangen main kesini :”) pas itu main ke telaga warna & candi Arjuna jg sama ke kawah sikidang. Tapi aku jg ga ke sikunir sih karena males bgt kalo harus bangun pagi buat liat sunrisenya :”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s